Yogyakarta (07/04/26) – Kelompok Wanita Tani (KWT) Lestari yang mengembangkan produk olahan lidah buaya berpotensi menjadi desa binaan dalam program pengabdian kepada masyarakat Program Magister Kepemimpinan dan Inovasi Kebijakan (MKIK) Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada. Dalam kegiatan penjajakan dan diskusi lapangan di Dusun Tegalsari Pakembinangun ini tim MKIK UGM berdialog langsung dengan pengurus dan anggota KWT Lestari untuk mengidentifikasi potensi, tantangan, serta kebutuhan pengembangan kelompok. Kegiatan ini dihadiri oleh Ketua Program MKIK Makbul Hajad, STP., M.Eng., Ph.D., dosen Fakultas Teknologi Pertanian UGM Dr. Joko Nugroho Wahyu Karyadi, S.T.P., M.Eng., staf program Citra Sekarjati, M.P.A., serta staf kerja sama Clarashinta Arumdani, S.S..
Yogyakarta (31/01/26) – Program Studi Doktor Kepemimpinan dan Inovasi Kebijakan (DKIK), Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM), menyelenggarakan Klinik Akademik Tematik: Digital Leadership & Innovation untuk mahasiswa kelas kerja sama Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia (Komdigi). Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya penguatan mutu proses pendidikan doktoral, khususnya dalam membekali mahasiswa dengan kapasitas kepemimpinan digital dan kemampuan inovasi kebijakan yang relevan dengan tantangan nasional. Klinik akademik tematik ini dirancang sebagai ruang pendalaman akademik yang intensif, tidak hanya berfokus pada penyusunan proposal disertasi, tetapi juga pada penguatan cara berpikir strategis, analitis, dan inovatif dalam merespons kompleksitas kebijakan publik di era digital. Melalui pendekatan tematik, kegiatan ini mendorong mahasiswa doktoral untuk menghasilkan karya ilmiah yang berbasis data, kontekstual, dan berdampak.
Yogyakarta (13/01/26) – Keberagaman sosial dalam masyarakat urban menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga harmoni sosial, terutama di wilayah yang mengalami perubahan demografis akibat urbanisasi. Kalurahan Sendangadi di Sleman merupakan salah satu contoh wilayah multikultur yang dihuni oleh warga asli dan pendatang dengan latar belakang sosial, budaya, dan ekonomi yang beragam. Dalam konteks ini, pengelolaan harmoni sosial tidak dapat terjadi secara alami, melainkan membutuhkan peran kepemimpinan yang adaptif dan inklusif untuk menjembatani berbagai kepentingan yang ada.
Yogyakarta (12/01/26) – Transformasi digital di sektor publik menjadi agenda strategis dalam meningkatkan kualitas pelayanan dan kinerja organisasi pemerintahan. Namun, implementasi transformasi ini tidak hanya bergantung pada teknologi, melainkan juga pada kesiapan kepemimpinan dan budaya organisasi. Tantangan seperti resistensi perubahan, birokrasi yang kaku, serta kesenjangan kompetensi digital masih menjadi hambatan dalam mendorong kinerja pegawai yang optimal di era digital.
Tesis yang disusun oleh Ahmad Bashir Kodar mengkaji isu tersebut melalui studi pada Aparatur Sipil Negara di Kementerian Keuangan. Penelitian ini dibimbing oleh Dr. Agus Joko Pitoyo, S.Si., M.A. sebagai pembimbing utama dan Dr. Ambar Teguh Sulistiyani, M.Si. sebagai pembimbing pendamping. Fokus penelitian ini adalah melihat bagaimana kepemimpinan digital mampu memengaruhi kinerja pegawai, dengan mempertimbangkan peran budaya organisasi digital sebagai variabel yang menjembatani hubungan tersebut.
Yogyakarta (12/01/26) – Pemberdayaan sosial di wilayah urban masih menghadapi tantangan besar, terutama karena pendekatan yang cenderung top-down sering kali tidak mampu menjawab kebutuhan riil masyarakat marjinal. Ketergantungan pada program formal dan figur tertentu membuat banyak inisiatif sulit bertahan dalam jangka panjang. Dalam konteks ini, munculnya gerakan berbasis komunitas menjadi alternatif penting dalam membangun resiliensi sosial yang lebih mandiri dan berkelanjutan.
Tesis yang disusun oleh Zidane Al Yasmin mengkaji fenomena tersebut melalui studi pada Komunitas Sekolah Marjinal (KSM) Yogyakarta. Penelitian ini dibimbing oleh Dr. Agus Joko Pitoyo, S.Si., M.A. sebagai pembimbing utama dan Prof. Dr. Setiadi, S.Sos., M.Si. sebagai pembimbing pendamping. KSM menjadi contoh bagaimana komunitas lokal mampu mengembangkan model pemberdayaan yang adaptif melalui pendekatan berbasis relasi sosial dan kebutuhan nyata di lapangan.
Sleman (11/12/2025) – Pada kegiatan kuliah lapangan Mata Kuliah Kepemimpinan Strategis dan Inovatif (10/12) mahasiswa program Magister Kepemimpinan dan Inovasi Kebijakan Universitas Gadjah Mada memilih Banyuraden sebagai lokasi pembelajaran praktik lapangan. Para mahasiswa belajar langsung mengenai kepemimpinan, inovasi pelayanan, serta pengelolaan desa yang dinilai berhasil menjawab kebutuhan masyarakat. Kalurahan Banyuraden, Gamping, Sleman menjadi sorotan berkat berbagai inovasi tata kelola pemerintahan, pelayanan publik, dan pemberdayaan masyarakat yang berhasil mendorong desa tersebut menjadi salah satu kalurahan paling maju di Kabupaten Sleman. Melalui kepemimpinan strategis Lurah Sudarisman, S.T., Banyuraden kini dikenal sebagai role model desa mandiri dan berbudaya.
Yogyakarta, 11 November 2025 — Sesi talkshow bertajuk “Women and Strategic Leadership: Experience, Policy, and Impact” dalam rangkaian Leadership Day 2025 Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) menghadirkan dua sosok perempuan inspiratif: Prof. Dr. Wening Udasmoro, S.S., M.Hum., DEA., Wakil Rektor UGM, dan Sherly Tjoanda, Gubernur Maluku Utara. Sesi ini menghadirkan refleksi mendalam mengenai pengalaman, kebijakan, dan dampak nyata kepemimpinan perempuan dalam membangun Indonesia yang lebih inklusif.
Yogyakarta (11/11/2025) – Keynote ketiga Leadership Day 2025 menghadirkan perspektif segar tentang kepemimpinan di era transformasi digital melalui keynote speech “Digital Leadership: Empowering Collaboration and Innovation for Indonesia’s Future” yang disampaikan oleh Raden Wijaya Kusumawardhana, Staf Ahli Bidang Sosial, Ekonomi, dan Budaya Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi). Dalam pemaparannya, Raden Wijaya menekankan bahwa kepemimpinan digital bukan semata tentang kemampuan menguasai teknologi, tetapi tentang cara menggunakannya untuk memperkuat kolaborasi, memperluas inklusivitas, dan melahirkan inovasi yang berdampak nyata bagi masyarakat. “Kepemimpinan digital adalah tentang membangun koneksi, bukan sekadar konektivitas; tentang memberdayakan, bukan sekadar mengendalikan,” ujarnya membuka sesi.
Yogyakarta (11/11/2025) – Keynote speech kedua Leadership Day 2025 menghadirkan paparan inspiratif dari Agus Dwi Handaya, Managing Director Holding Operational Danantara Indonesia, dalam keynote speech bertajuk “Transformational Leadership: Learning from Danantara Vision”. Dalam pemaparannya, Agus menyoroti pentingnya transformasi kepemimpinan di lingkungan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebagai motor perubahan yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat. Ia membuka sesi dengan menggarisbawahi peran strategis BUMN yang tidak hanya berperan sebagai penggerak ekonomi nasional, tetapi juga sebagai agen pembangunan sosial. “BUMN memiliki aset lebih dari sepuluh ribu triliun rupiah, dengan 1,6 juta pegawai dan jutaan masyarakat yang dilayani setiap hari. Angka ini bukan sekadar statistik, tetapi potret besar tanggung jawab untuk menyejahterakan bangsa,” ujarnya.
Yogyakarta (11/11/2025) – Leadership Day 2025 yang digelar oleh Magister Kepemimpinan dan Inovasi Kebijakan Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) menghadirkan sesi pembuka penuh makna melalui Keynote Speech bertajuk “The Foundation of Interdisciplinary Leadership” oleh Prof. Dr. Ahmad Najib Burhani, M.A., Direktur Jenderal Sains dan Teknologi, Kemendikstiristek. Sesi ini menjadi ruang refleksi tentang pentingnya pendekatan lintas disiplin dalam membangun kepemimpinan masa depan yang berakar pada nilai kemanusiaan dan kolaborasi. Dalam paparannya, Prof. Najib menegaskan bahwa UGM harus terus menjadi pelopor pendidikan interdisipliner sebagai fondasi untuk melahirkan pemimpin yang mampu menjembatani berbagai bidang pengetahuan. “Bridging disciplines, building future, inilah dasar kepemimpinan sejati,” ujarnya. Ia mencontohkan bagaimana pandemi COVID-19 menjadi momentum nyata bahwa persoalan besar tidak dapat diselesaikan oleh satu bidang saja. “Saat pandemi, kolaborasi antara kesehatan, agama, politik, dan bahkan militer menjadi keharusan. Itulah refleksi bahwa pendekatan inter, multi, dan transdisiplin bukan lagi pilihan, tetapi keniscayaan,” tambahnya.