Yogyakarta (13/01/26) – Keberagaman sosial dalam masyarakat urban menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga harmoni sosial, terutama di wilayah yang mengalami perubahan demografis akibat urbanisasi. Kalurahan Sendangadi di Sleman merupakan salah satu contoh wilayah multikultur yang dihuni oleh warga asli dan pendatang dengan latar belakang sosial, budaya, dan ekonomi yang beragam. Dalam konteks ini, pengelolaan harmoni sosial tidak dapat terjadi secara alami, melainkan membutuhkan peran kepemimpinan yang adaptif dan inklusif untuk menjembatani berbagai kepentingan yang ada.
Tesis yang disusun oleh Zahri Rinaldy St. Panduko mengkaji peran kepemimpinan kolaboratif dalam menjaga harmoni sosial di Kalurahan Sendangadi, Sleman, Yogyakarta. Penelitian ini dibimbing oleh Pande Made Kutanegara, M.Si., Ph.D. sebagai pembimbing utama dan Hakimul Ikhwan, S.Sos., M.A., Ph.D. sebagai pembimbing pendamping, serta diuji oleh Prof. Dr. Agus Heruanto Hadna, S.IP., M.Si. dan Makbul Hajad, S.T.P., M.Eng., Ph.D. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumen untuk memahami dinamika sosial masyarakat multikultur secara komprehensif .
Hasil penelitian menunjukkan bahwa harmoni sosial di Sendangadi dibangun melalui praktik kepemimpinan kolaboratif yang melibatkan berbagai aktor lokal. Lurah berperan sebagai penjaga nilai bersama (steward), Dukuh sebagai mediator dalam menyelesaikan konflik sosial, serta RT/RW sebagai penggerak partisipasi masyarakat. Kolaborasi ini berhasil menciptakan ruang dialog inklusif, memperkuat interaksi sosial, serta menjembatani kesenjangan antara warga asli dan pendatang. Selain itu, nilai-nilai budaya lokal seperti rukun, gotong royong, dan musyawarah menjadi faktor pendukung penting, meskipun masih terdapat tantangan seperti perbedaan sosial-ekonomi, rendahnya partisipasi warga perumahan, dan potensi gesekan identitas.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberhasilan menjaga harmoni sosial tidak hanya bergantung pada budaya lokal, tetapi juga pada efektivitas kepemimpinan kolaboratif yang mampu membangun kepercayaan dan partisipasi lintas kelompok. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk menginstitusionalisasikan praktik kolaborasi agar tidak bergantung pada figur tertentu. Pemerintah kalurahan disarankan untuk memperkuat kapasitas kepemimpinan lokal, mengembangkan ruang partisipasi yang inklusif, serta mendorong inovasi sosial berbasis komunitas guna memastikan keberlanjutan harmoni sosial dalam masyarakat multikultur.
TENTANG PENELITIAN INIJudul Tesis : Peran Kepemimpinan Kolaboratif Dalam Mengelola Harmoni Sosial Masyarakat Multikultur di Kalurahan Sendangadi, Sleman Yogyakarta
Nama Mahasiswa : Zahri Rinaldy St. Panduko
Pembimbing Utama : Pande Made Kutanegara, M.Si., Ph.D.
Pembimbing Pendamping : Hakimul Ikhwan, S.Sos., M.A., Ph.D.
Penguji : 1. Prof. Dr. Agus Heruanto Hadna, S.IP., M.Si., 2. Makbul Hajad, S.T.P., M.Eng., Ph.D.
Lokasi Penelitian : Kalurahan Sendangadi, Sleman, Yogyakarta
Clarashinta Arumdani