• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
  • Email UGM
Universitas Gadjah Mada Leadership and Policy Innovation
Universitas Gadjah Mada
  • BERANDA
  • TENTANG
    • Tentang Kami
    • Sejarah Singkat
    • Struktur Organisasi
    • Mitra Strategis
  • PROGRAM STUDI
    • S2 MKIK
      • Sambutan Ketua Program S2
      • Pengelola Program S2
      • Tentang Program S2
      • Struktur Kurikulum S2
      • Mata Kuliah Program S2
      • Dosen Program S2
      • Informasi Pendaftaran S2
    • S3 DKIK
      • Sambutan Ketua Program S3
      • Pengelola Program S3
      • Tentang Program S3
      • Struktur Kurikulum S3
      • Mata Kuliah Program S3
      • Dosen Program S3
      • Informasi Pendaftaran S3
  • RISET DAN KOLABORASI
    • Laboratorium
    • Tesis Mahasiswa
    • Disertasi Mahasiswa
    • Sekolah Inovasi Desa
  • MAHASISWA DAN ALUMNI
    • Aktifitas Mahasiswa
    • International Experience
    • Prestasi
    • Alumni
    • KAPIMGAMA
  • Beranda
  • Berita Utama
  • Fondasi Kepemimpinan Interdisipliner: Dari Kampus untuk Masa Depan Indonesia

Fondasi Kepemimpinan Interdisipliner: Dari Kampus untuk Masa Depan Indonesia

  • Berita Utama, Event MDKIK
  • 12 November 2025, 09.15
  • Oleh: mdkik.pasca
  • 0

Yogyakarta (11/11/2025) – Leadership Day 2025 yang digelar oleh Magister Kepemimpinan dan Inovasi Kebijakan Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) menghadirkan sesi pembuka penuh makna melalui Keynote Speech bertajuk “The Foundation of Interdisciplinary Leadership” oleh Prof. Dr. Ahmad Najib Burhani, M.A., Direktur Jenderal Sains dan Teknologi, Kemendikstiristek. Sesi ini menjadi ruang refleksi tentang pentingnya pendekatan lintas disiplin dalam membangun kepemimpinan masa depan yang berakar pada nilai kemanusiaan dan kolaborasi. Dalam paparannya, Prof. Najib menegaskan bahwa UGM harus terus menjadi pelopor pendidikan interdisipliner sebagai fondasi untuk melahirkan pemimpin yang mampu menjembatani berbagai bidang pengetahuan. “Bridging disciplines, building future, inilah dasar kepemimpinan sejati,” ujarnya. Ia mencontohkan bagaimana pandemi COVID-19 menjadi momentum nyata bahwa persoalan besar tidak dapat diselesaikan oleh satu bidang saja. “Saat pandemi, kolaborasi antara kesehatan, agama, politik, dan bahkan militer menjadi keharusan. Itulah refleksi bahwa pendekatan inter, multi, dan transdisiplin bukan lagi pilihan, tetapi keniscayaan,” tambahnya.

Menurut Prof. Najib, kebijakan dan teknologi yang dikembangkan pemerintah juga perlu berpijak pada human-centered approach — menempatkan manusia, budaya, dan nilai sosial sebagai inti dari inovasi. Ia menyoroti bahwa teknologi yang kehilangan dimensi kemanusiaan hanya akan menghasilkan kemajuan tanpa makna. “Teknologi tanpa etika, keadilan sosial, dan keberlanjutan akan kehilangan ruh kemanusiaannya. Kita perlu menghadirkan dimensi budaya dan nilai lokal dalam setiap kebijakan, agar pembangunan benar-benar berpihak pada manusia,” jelasnya. Dalam konteks ini, ia mencontohkan pembangunan di Papua yang menurutnya tidak bisa sekadar dipahami dari sisi teknokratis, melainkan harus menyentuh aspek sosial, budaya, dan karakter masyarakat setempat. “Kebhinekaan dan kearifan lokal bukan penghambat kemajuan, melainkan fondasi yang memperkaya pembangunan nasional,” tegasnya.

Prof. Najib juga menyinggung konsep co-creation, co-design, dan citizen science sebagai wujud keterlibatan masyarakat dalam proses inovasi publik. Ia menekankan pentingnya membangun social trust sebagai modal utama dalam setiap bentuk pembangunan. “Kepercayaan sosial adalah jantung dari setiap transformasi. Tanpa itu, ilmu pengetahuan dan teknologi hanya akan menjadi proyek elitis yang terlepas dari realitas masyarakat,” ujarnya. Menutup sesinya, Prof. Najib mengingatkan bahwa tantangan masa depan seperti perubahan iklim, teknologi digital, dan pergeseran demografi menuntut kepemimpinan yang mampu melintasi batas-batas disiplin ilmu. “Pertanyaannya bukan lagi apakah teknologi akan menggantikan manusia, tetapi bagaimana kita merancang teknologi yang memperkuat kemanusiaan,” pungkasnya. Sebagaimana semangat Leadership Day 2025, sesi ini menegaskan kembali peran kampus sebagai kawah candradimuka bagi lahirnya pemimpin masa depan — pemimpin yang berpikir lintas disiplin, bertindak kolaboratif, dan berorientasi pada kemanusiaan. Dari kampus UGM, gagasan besar kepemimpinan interdisipliner kembali dinyalakan untuk menuntun langkah menuju Indonesia Emas 2045.

 

Tags: SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan SDG 16: Perdamaian Keadilan dan Kelembagaan yang Tangguh SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan SDG 4: Pendidikan Berkualitas

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Universitas Gadjah Mada

Magister dan Doktor
Kepemimpinan dan Inovasi Kebijakan Sekolah Pascasarjana
Universitas Gadjah Mada
Jl. Tevesia, Bulaksumur Yogyakarta, 55281 Indonesia
mdkik.pasca@ugm.ac.id
No. HandPhone S2: +6281338203636
No. HandPhone S3: +6281338203882
No. Telepon :+62 (274) 547867

 

© 2026 Leadership and Policy Innovation

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY